Pada hari Senin 22
Januari 2013, KPP Wajib Pajak Besar Satu mengadakan In House Training tentang Perbankan dengan mengangkat Tema Evaluasi
Kinerja Industri Perbankan Tahun 2013 dan Prospek di Tahun 2014. Pembicara yang
diundang adalah seorang ekonom Bank Central Asia yaitu Bapak David Sumual,
serta ekonom Standard Chartered Bank yaitu Bapak Fauzi Ichsan. Tujuan pelaksaan
IHT ini adalah untuk mengetahui outlook
ekonomi Indonesia khususnya dalam bidang perbankan serta mengetahui
prospektusnya di tahun 2014 berkaitan dengan penerimaan pajak.
Sebagaimana telah
dijelaskan oleh Bapak Aim Nursalim Saleh (Kepala KPP Wajib Pajak Besar Satu)
pada pembukaan IHT bahwa target penerimaan pajak dari DJP pada tahun 2014
meningkat sebesar kurang lebih 1010 Triliun setelah sebelumnya berkisar pada
angka 900 Triliun. Dari sektor perbankan sendiri telah menyumbang sekitar 37,5%
dari target penerimaan dan akan meningkat pada tahun 2014 ini menjadi 53,31%.
Dengan demikian, di tengah isu krisis ekonomi dunia yang masih belum stabil,
industri perbankan dirasa menjadi salah satu tulang punggung penerimaan pajak
Indonesia yang penting. Oleh karena itu
beliau berharap melalui acara IHT tersebut akan diketahui gambaran kondisi
ekonomi Indonesia tahun 2014 sehingga dapat dibaca prognosa kualitatif target
penerimaan pajak tahun 2014.
Kondisi
Ekonomi Global
![]() |
Uang dicetak lebih banyak saat periode QE |
Akan tetapi, selama
periode 2008-2012, stimulus moneter QE yang diharapkan akan mendorong aktivitas
perekonomian tersebut justru membawa efek samping, yakni menimbulkan dampak
spekulatif (search for yield) dimana
investor keluar dari aset finansial dgn
yield rendah (mata uang, obligasi) ka aset yang lebih spekulatif (saham, HY
bonds, komoditas, dsb.) serta menimbulkan fear
effect yakni ketakutan akan inflasi yang mendorong investor ritel beralih
ke aset riil (emas, properti, dsb.). Dampak ketiga yang ditimbulkan EQ adalah
dampak crypto-currency termasuk bitcoin yang merupakan peningkatan
permintaan akan aset serupa uang yang aman dari manipulasi bank sentral. Akan tetapi, diluar semua efek samping
spekulan tersebut, quantitative easing tetap
berjasa membawa pemulihan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dari angka minus
2,6% (2009) menjadi 1,7% (2013). Begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi dunia
juga mulai membaik dari angka minus 0,7% (2009) menjadi 2,7% (2013).
Kebijakan Quantitative Easing yang dirasa cukup
berhasil memulihkan ekonomi global tersebut ditakutkan hanyalah pemulihan semu (liquidity traps) bagi ekonomi dunia,
yakni semakin tergantungnya negara-negara EM terhadap pinjaman dana negara
asing dengan bunga rendah dan ditakutkan skenario krisis ekonomi dunia akan
berulang. Selain itu, kebijakan debt
ceiling (pembatasan hutang) per 7 Februari 2014 juga menimbulkan tantangan
lain. Ancaman krisis seperti yang terjadi di Eropa pada tahun 2007 lalu juga
membayangi Prancis dengan indikator perekonomian yang tumbuh lamban serta
tingginya pengangguran (12,1%) per Oktober 2013. Adanya deflationary environment (turunnya inflasi sebesar 0,6%) membuat
masyarakat Eropa semakin menunda pembelian barang dan dikhawatirkan akan
semakin menurunkan aktivitas ekonomi. Negara China juga membawa tantangan
global tersendiri, antara lain dengan kenaikan pajak per April 2014, lemahnya
konsumsi, lambatnya pertumbuhan ekonomi, tumpukan utang pemda, aktivitas shadow banking, krisis likuiditas
perbankan, serta bubble property di
beberapa wilayah China bagian Timur.
India memiliki masalah ekonomi yang hampir serupa dengan Indonesia,
yakni maraknya serangan spekulan. Inflasi yang terjadi di India sangat tinggi,
yaitu 11,5% dengan defisit transaksi berjalan di atas 4,2% terhadap PDB per
September 2013.
![]() |
Negara-negara EM sangat tergantung pada QE |
Oleh karena itu, pada
pertengahan tahun 2013 ketika ekonomi AS dan dunia mulai membaik, angka
pengangguran menurun menjadi 6,7% serta angka inflasi yang rendah yaitu 1,5%,
mendorong FED melakukan tapering
setahap demi setahap yakni dengan mengurangi suntikan likuiditas sebesar US$ 10
M/ bulan sehingga menimbulkan dana mengalir keluar dari EM menuju negara maju
sebesar US$ 7,8 M untuk ekuitas dan US $ 2,0 M untuk obligasi (per Agustus
2013). Mulai 1 Januari 2014, QE hanya akan dipatok sebesar US $ 75 M/ bulan.
Meskipun secara global IMF memprediksikan dengan adanya tapering akan semakin memulihkan ekonomi negara maju sehingga
prognosa pertumbuhan ekonomi global meningkat dari angka 2,9% (2013) menjadi
3,6% (2014), tetap ada beberapa negara yang merasakan dampak atas financial outflow tersebut, khususnya
negara-negara EM sehingga suntikan dana investasi luar negeri menjadi
berkurang. Negara yang merasakan dampak langsung atas adanya tapering ini antara lain Indonesia,
India, dan Brazil.
Bapak Fauzi Ichsan juga
menekankan bahwa isu kedua yang menimbulkan keresahan bagi negara-negara EM
adalah adanya revolusi shale gas di
Amerika Serikat. AS telah menemukan sebuah teknologi baru pengeboran minyak
yaitu teknologi fracking dimana
pengeboran tersebut bisa menembus bebatuan keras sehingga produksi minyak yang
dihasilkan AS akan jauh lebih meningkat. Pada tahun 2030, AS diperkirakan akan
menjadi negara net exportir minyak
mengalahkan Arab Saudi. Teknologi
tersebut tentu saja akan ditiru oleh negara-negara lainnya sehingga supply energi dunia (minyak dan batu
bara) akan semakin melimpah dan menimbulkan semakin anjloknya harga minyak bumi
& komoditas lainnya. Bagi negara-negara pengekspor komoditas, tentu saja
hal tersebut akan menjadi pukulan telak karena nilai ekspor akan semakin
menurun dengan menurunnya harga komoditas. Pada akhirnya akan berdampak pada
neraca perdagangan negara-negara pengekspor komoditas dan dapat menyebabkan
defisit neraca perdagangan yang semakin besar jika tidak diambil langkah
pengamanan lebih lanjut.
Outlook
Ekonomi Indonesia Tahun 2014
Seperti telah
dijelaskan sebelumnya bahwa ekonomi Indonesia memiliki kasus yang hampir mirip
dengan negara India, yakni maraknya serangan spekulan serta defisit transaksi
berjalan. Bapak David Sumual memaparkan bahwa defisit transaksi berjalan pada
tahun 2013 telah mencapai angka 3,5%. Akan tetapi, jika keadaan ekonomi dan
konsumsi/impor dapat ditekan untuk tahun 2014 maka defisit hanya akan mencapai
angka 2,8%. Keadaan defisit neraca tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak
tahun 1997. Hal ini disebabkan oleh dua
hal yaitu dulu Indonesia adalah negara net
exportir minyak yang berubah menjadi negara net oil importir sejak tahun 2003. Alasan kedua adalah sebelum
terjadinya krisis moneter, negara Indonesia di-supply dana oleh IGGI/CGI. Semenjak pertumbuhan ekonomi Indonesia
mulai membaik dan Indonesia digolongkan sebagai negara menengah, pinjaman
CGI/IGGI sekarang lebih bersifat komersiil. Dengan adanya kedua hal tersebut,
Indonesia semakin tertekan oleh hasil ekspor yang kurang mencukupi, cicilan
imbal hasil yang tinggi, serta meningkatnya subsidi.
![]() |
Perubahan life style masyarakat Indonesia |
Hal tersebut diperparah
dengan berubahnya life style masyarakat
Indonesia. Terlebih saat periode menurunnya tingkat suku bunga BI Rate di Indonesia, tingkat konsumsi
semakin menjadi-jadi karena banyaknya masyarakat yang mengambil kredit untuk
barang konsumsi. Padahal, sebagian besar barang konsumsi kita (misal alat-alat
elektronik, makanan restoran, pakaian, dsb.) adalah barang impor. Jika konsumsi
Indonesia tidak ditekan, impor negara Indonesia tidak akan sanggup mengimbangi
ekspor luar negeri dan pada akhirnya defisit neraca perdagangan akan semakin
besar.
Sebenarnya Indonesia
pernah mengalami masa kejayaan setelah mengalami keterpurukan akibat krisis
moneter tahun 1997-1998. Jika Indonesia menengok ke arah 5 tahun ke belakang
(2008-2012), dapat dikatakan bahwa lima tahun lalu adalah lima tahun penuh
kelimpahan (5 years of plenty). PDB
kita terus menguat dari 6,0% menjadi 6,5%, BI
rate menurun dari 9,5% menjadi 5,75%, dan menguatnya Rupiah. Hal tersebut
disebabkan oleh boomingnya komoditas Indonesia (harga barang-barang komoditas
naik sehingga hasil ekspor tinggi) serta inflow
modal (banjir likuiditas akibat QE). Akan tetapi, dengan tidak adanya reformasi
stuktural yang meliputi pembenahan infrastruktur, produktivitas, serta pasar
tenaga kerja, akhirnya kondisi kelimpahan tersebut kembali ke kondisi normal
pada tahun 2013. PDB menurun menjadi +/- 5%, BI rate terus meningkat hingga
mencapai angka 8%, serta imbal hasil SUN 10Y yang mencapai >8% dan menambah
beban negara. Lalu bagaimanakah kondisi masa depan ekonomi Indonesia jika
kebijakan struktural/ reformasi pemerintah baru tidak mengambil langkah
preventif? Terlebih di tengah tekanan
isu US tapering serta revolusi shale gas Amerika yang otomatis
menurunkan harga komoditas dunia.
Menengok kondisi saat
ini yang dapat dikatakan mengalami penurunan dibandingkan lima tahun lalu serta
kekhawatiran akan kondisi masa depan membuat David Sumual berbicara mengenai
perancangan sistematis pembangunan. Semenjak GBHN dihapuskan, negara Indonesia
mengalami kebingungan arah pembangunan sebab saat ini Indonesia hanya
bergantung pada RJP. Seharusnya Indonesia meniru negara China dan Korea yang
telah membuat perencanaan negaranya hingga 20 tahun ke depan. Di negeri Korea,
industri alat-alat berat dibangun sehingga akhirnya elektronik bisa berkembang.
Korea juga membuat perencanaan melalui sosial budaya, yaitu budaya K-POP yang
telah menyerbu negara lain hingga Jepang. Pada akhirnya budaya K-POP ini
berpengaruh kepada ritel Korea (Cloth
Mark).
Pada akhirnya kondisi
keterpurukan Indonesia akibat tapering
USA tersebut membawa dampak signifikan bagi perekonomian Indonesia. David
Sumual menyatakan bahwa tahun 2013 Indonesia menjadi negara dengan perekonomian
terburuk di Asia serta nomor 2 di dunia setelah Argentina dan Peso.
Langkah
Kebijakan Ekonomi Indonesia Tahun 2014
Setelah sejenak kita
menengok ke arah pembangunan ekonomi negara lain, sekarang kita lihat langkah kebijakan
apa saja yang telah diambil oleh Indonesia sebagai langkah preventif untuk
mengurangi defisit neraca berjalan pada tahun 2014. Semenjak Bapak Agus Marto
Wardjoyo menjadi Gubernur BI pada tahun 2012 lalu, beliau menyimpulkan bahwa
ekspor Indonesia bagaimanapun juga tidak akan dapat ditingkatkan karena hal
tersebut di luar kendali Indonesia. Harga barang komoditas sangat terancam oleh
prospektus revolusi shale gas di USA.
Terlebih adanya larangan ekspor atas beberapa logam antara lain nikel dan bauksit,
tentu saja membuat neraca perdagangan Indonesia semakin minus. Dari perhitungan
didatkan bahwa pelarangan ekspor atas nikel dan bauksit itu sendiri menyumbang
defisit sebesar 0,2%.
Oleh karena itu, jalan
satu-satunya yang diambil oleh Gubernur BI adalah dengan menekan pola konsumsi
masyarakat yang kebanyakan merupakan konsumsi barang-barang impor tersebut.
Cara pertama adalah dengan menaikkan Pajak Penghasilan atas impor sebagaimana
secara eksplisit telah terlihat pada PMK-175/PMK.011/2013, bahwa impor baik
dengan API maupun tanpa API atas barang-barang tertentu (sebagian besar
barang-barang konsumsi), tetap dikenakan tarif 7,5% (sebelumnya impor barang
dengan API hanya dikenakan tarif 2,5%. Langkah kedua adalah dengan meningkatkan
PPnBM atas impor barang-barang yang tergolong lux, misalnya gadget, smartphone, dsb. Langkah selanjutnya adalah
dengan menurunkan nilai tukar Rupiah terhadap dollar. Saat ini Rupiah telah
berkisar di antara level Rp11.000 hingga Rp12.000, padahal sebelumnya hanya
berkisar pada level Rp8.500,-. Diperkirakan Rupiah akan terus ditekan hingga
mencapai level Rp12.500 pada akhir semester kedua tahun 2014 ini dengan harapan
pola konsumsi masyakat juga dapat ditekan. Kebijakan selanjutnya yang
diluncurkan adalah penurunan jumlah kredit. Tahun lalu BI memberikan batasan
kredit yang digelontorkan oleh Bank Indonesia adalah sebesar 25%. Akan tetapi
pada tahun 2014 ini, BI menurunkan jumlah kredit yang dapat diberikan hanya
sebesar 15%.
Terkait dengan adanya
ancaman tapering USA, yield SUN Indonesia tertekan hingga
mencapai level 8% ke arah 9%, padahal sebelumnya sempat mencapai angka 10-12%.
Hal tersebut sebagian besar juga disebabkan oleh berkurangnya inflow modal
akibat semakin ketatnya Quantitative
Easing.
Kondisi cuaca yang
tidak mendukung pada awal tahun 2014 ini juga mempengaruhi kondisi perekonomian
negara Indonesia. Diperkirakan akibat meluasnya banjir, barang-barang konsumsi
akan semakin langka sehingga akan terjadi inflasi sebesar 8,4%. Akan tetapi
akan inflasi tersebut akan turun ke base
5%-6% pada bulan Juni ketika cuaca mulai membaik.
Faktor negatif lainnya
adalah adanya aturan daftar negara yang boleh dan tidak boleh berinvestasi di
Indonesia yang belum keluar membuat investor menjadi enggan untuk berinvestasi
di Indonesia. Kemudian kebijakan LTV yang lebih memperketat penyaluran kredit
untuk otomotif serta rumah kedua dst. membuat pertumbuhan sektor properti dan
otomotif sedikit melamban. Adanya kesenjangan UMR antara daerah dengan Jakarta
membuat banyaknya tenaga kerja yang berpindah memicu relokasi pabrik-pabrik di
daerah. Pada akhirnya, tenaga kerja yang tidak berpindah akan mengalami
kehilangan pekerjaan sehingga ancaman kredit macet properti akan meningkat
akibat meningkatnya pengangguran.
Sebenarnya meskipun
awal hingga pertengahan tahun 2014 ini ekonomi Indonesia akan mengalami sedikit
masa-masa tidak stabil, setidaknya hal tersebut dapat tertolong oleh
diselenggarakannya Pemilu 2014. Pemilu bisa menjadi katalis positif bagi
konsumsi dalam negeri, produktivitas industri, tenaga kerja, serta membawa
harapan baru bagi investor untuk kembali menanamkan modalnya di Indonesia
sehingga efek negatif tapering dapat
dihindari.
Faktor-faktor positif
lainnya yang juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah
adanya sektor dollar earner misalnya konsumsi, transportasi, pariwisata. Selain
itu daya beli masyarakat yang tinggi akibat meningkatnya UMR juga dapat menjadi
stimulus untuk konsumsi dalam negeri. Kenaikan suku bunga pada level 8% akan
menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Ditambah dengan wacana subsidi BBM
yang tetap sehingga risiko fiskal tetap rendah juga dapat menambah rating
Indonesia di mata investor.
Dengan
menganalisis kebijakan-kebijakan yang
telah dibuat oleh pemerintah serta faktor-faktor positif dan negatifnya, analis
ekonom Indonesia optimis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat
0,2% dari tahun 2013, yaitu menjadi 5,8% dari angka 5,6%.
Prospek
Ekonomi Indonesia dan Industri Perbankan dari Segi Penerimaan Pajak
Setelah
memahami kondisi ekonomi global dengan isu tapering
dan revolusi gas shale, outlook
ekonomi Indonesia tahun 2014 serta langkah kebijakan yang diambil, dapat
ditarik benang merah prospektus ekonomi Indonesia di tahun 2014 terhadap
penerimaan pajak, khususnya di bidang perbankan.
Berdasarkan
pernyataan David Sumual, dengan melihat ancaman tapering yang mendorong outflow dari negara Indonesia serta adanya
revolusi gas shale yang akan
menurunkan harga komoditas, kemungkinan besar penerimaan pajak khususnya sektor
industri perbankan terlebih pertambangan akan mengalami penurunan dari segi
pertumbuhan. Nominal akan naik, namun growth-nya
akan turun. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa poin berikut:
- Kebijakan BI menurunkan batasan kredit dari 25% menjadi 15% akan membuat pertumbuhan laba perbankan di Indonesia juga turut mengalami penurunan.
- Mata uang Rupiah yang tertekan terhadap dollar hingga level Rp12.500,00 pada tahun 2014 akan mempengaruhi nilai ekspor Indonesia. Indonesia harus menerima risiko untuk mengekspor lebih banyak daripada tahun lalu dengan imbalan nilai ekspor yang sama akibat melemahnya rupiah pada kuartal pertama dan kedua.
- Harga komoditas yang rendah akibat revolusi gas shale akan berdampak pada laba pengekspor sehingga penerimaan pajak dari sektor pertambangan juga akan mengalami penurunan. Kisaran harga minyak mentah masih berada di bawah USD 110, batu bara antara USD 80-USD 87, emas antara USD 1170-USD 1242 /oz.
- Penurunan investasi asing akibat adanya kebijakan tapering yang mengurangi inflow modal. Ditambah dengan makin besarnya tekanan BI dan OJK untuk membatasi kepemilikan asing di perbankan.
- Saham-saham unggulan dari sektor pertambangan sempat terpukul karena Global Risk Aversion.
- Adanya aturan mengenai larangan ekspor nikel dan bauksit serta ketidakpastian regulasi di sektor pertambangan migas, misalnya pelarangan ekspor mineral mentah.
- Adanya bencana dan ketidakpastian cuaca pada awal tahun yang mengakibatkan melemahnya aktivitas perekonomian dan menimbulkan gangguan logistik.
- Suku bunga BI Rate naik menjadi 8% sehingga menyebabkan bagi hasil/bunga juga meningkat. Bagi pihak bank, kenaikan BI rate selain menambah keuntungan juga dapat menambah beban atas investasi dari investor.
- Adanya kebijakan LTV yang memperketat aturan kredit untuk properti dan otomotif sehingga selain menurunkan laba perbankan, juga memperlambat pertumbuhan laba sektor properti dan otomotif.
- Rendahnya PDB Indonesia untuk tahun 2013 hingga tahun 2014 yaitu masih di bawah 6%. Dengan demikian jelas terlihat bahwa penerimaan pajak pun pertumbuhannya tidak akan terlalu baik.
Meskipun kesepuluh poin
tersebut telah diungkapkan secara terbuka oleh David Sumual dan Fauzi Ichsan
mengenai prospektus penerimaan pajak di Indonesia untuk tahun 2014, bukan
berarti justru menimbulkan sikap skeptis dan pesimis bagi DJP. Justru gambaran nyata
kondisi perekonomian indonesia tersebut dapat dijadikan analisis dan upaya
preventif agar DJP melakukan upaya lebih demi mencapai penerimaan negara.
Misalnya penggalian dari sektor industri konsumsi. Menurut beliau, sektor
konsumsi akan mengalami peningkatan pesat dikarenakan UMR yang meningkat serta
adanya pertumbuhan penduduk.
Fauzi Ichsan juga yakin
bahwa industri perbankan merupakan industri yang lucrative dan masih tersimpan potensi yang sangat tinggi. Di
antaranya rasio kredit perbankan terhadap PDB nomial Indonesia yang masih
berkisar pada angka 32% pada tahun 2012, sementara China telah mencapai level
157%. Artinya Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh karena ekonomi
Indonesia masih tergolong under-levered.
Selain itu, peranan bursa saham di Indonesia juga masih terbatas yaitu sebesar
49% pada tahun 2012 dibandingkan Singapura yang telah mencapai level 224%. Akan
tetapi angka tersebut terkoreksi karena adanya kenaikan BI Rate.
Adanya Pemilu pada
tahun 2014 tentu saja membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia dan
penerimaan pajak. Pemilu tahun 2014 akan menggerakkan berbagai sektor serta
menumbuhkan kembali kepercayaan investor. Pada akhirnya semester 2 tahun 2014,
perekonomian Indonesia diprediksi akan kembali stabil.
![]() |
Persiapkan DJP dalam menghadapi tantangan ekonomi global 2014 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar